15 March 2012

Jejak Sang “Don” Mafia Berkeley


Widjojo Nitisastro/kompas.com

Bulan Oktober 1970, majalah Ramparts yang ditulis oleh David Ransom menerbitkan sebuah artikel mengenai hiruk pikuk perpolitikan dan keadaan masyarakat Indonesia tahun 1960-an.  Dari tulisan tersebut munculah istilah Mafia Berkeley.

Bila Mafia Berkeley diidentikan dengan organisasi kriminal dengan struktur dan kode etik tertentu seperti novel The Godfather karya Mario Puzo, mungkin tidak terlalu tepat. Namun, bila Mafia Berkeley ini sebuah kelompok teknokrat yang diikat oleh kesamaan visi, komitmen, kedekatan, dan kepercayaan. Kelompok inilah yang menjadi penggagas dan otak pembangunan Indonesia pada masa Orde Baru.


Kata mafia Berkeley ini merujuk kepada sekelompok akademis lulusan Universitas California di Berkeley yang dibiayai oleh Ford Fondation. Di Berkeley, lebih spesifik mereka menekuni cabang ekonomi pembangunan. Dari sejumlah ekonom yang ada di kelompok ini, nama Widjojo Nitisastro yang dianggap sebagai “Sang Don” dari Mafia Berkeley.

Pertengahan tahun 1960-an, ekonomi Indonesia sudah kehilangan dayanya dan sedang menuju kehancuran. Pangan berkurang, inflasi hampir 600 persen, devisa kosong, kemiskinan ada di mana-mana. Pada saat inilah Widjojo dan kelompoknya memainkan peranan yang cukup besar.

Mereka berhasil meyakinkan Soeharto bahwa perekonomian warisan pemerintah Soekarno hanya dapat diperbaiki dengan menghormati hukum-hukum ekonomi, menyehatkan peran mekanisme pasar, dan membuka pintu bagi perkembangan dunia.
Seluruh ide dan gagasan dari Widjojo dan kelompoknya ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka hasilnya pada akhir 1960-an inflasi dapat dikendalikan, penanaman modal asing dan dalam negeri melonjak, kredibilitas bank-bank negara pulih, dan produksi secara keseluruhan meningkat.

Dalam perkembangannya setiap kebijakan mereka tidaklah berjalan mulus. Pada awal 1973, kritik terhadap mereka mulai bermunculan, yang mencapai puncaknya pada peristiwa Malapetaka 15 Januari atau sering dipopulerkan dengan nama Malari, 1974.

Kaum cendikiawan seperti Mohammad Hatta, Sarbini Sumawinata, Soedjatmoko, dan Mochtar Lubis  serta aktifis mahasiswa berhasil meyakinkan masyarakat bahwa berbagai program yang dijalankan oleh Widjojo Nitisastro telah membawa Indonesia masuk terlalu jauh ke dalam liberalisme ekonomi.

Program-program tersebut, kata para pengkritiknya, semakin memperlebar jurang sosial ekonomi serta menyebabkan Indonesia didominasi pihak asing. Oleh karena itu mereka mencoba meyakinkan pemerintah maupun rakyat bahwa strategi kelompok Widjojo harus diganti dengan strategi yang lebih meningkatkan kepentingan bisnis kaum pribumi, pemerataan pendapatan, dan melindungi pasar dalam negeri.

Awal tahun 1990-an banyak orang mengkritik lagi beberapa kebijakan kelompok Widjojo ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa paket kebijakan pada akhir tahun 1980-an yang bersifat pro-pasar bebas sehingga memunculkan konglomerat-konglomerat baru yang berasal dari keturunan Tionghoa. Para pengkritik pada periode ini adalah para pengusaha pribumi.

Badai kritik yang datang  terhadap kebijakan ekonomi Widjojo memang tak memberinya keleluasaan yang sangat besar, dengan kata lain, dalam kondisi-kondisi tertentu, kebijakan ekonomi menyesuaikan dengan situasi politik..

Tetapi toh itu semua tak menghalangi pandangan dunia internasional terhadap sosok Widjojo sebagai pengendali tim teknokrat yang telah memutar haluan ekonomi suatu bangsa  berpenduduk terbesar keempat di dunia.

Kebijakan stabilisasi dan rehabilitasi Indonesia pada tahun 1966-1968 telah dipelajari oleh beberapa negara berkembang dan menjadi model untuk memformulasi kebijakan-kebijakan mereka.
***

Widjojo lahir pada 23 September 1927. Setelah lulus kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI)  tahun 1955, Widjojo melanjutkan pendidikan ekonomi dan demografi di Universitas California, Berkeley pada September 1957 hingga Maret 1961. Memperoleh gelar Ph.D disana. Dia menjadi guru besar di Fakultas Ekonomi UI di usia 34 tahun. Selama periode 1964-1968 menjadi dekan FE UI. Widjojo menulis sebuah buku, yang menjadi salah satu buku yang amat populer di kalangan mahasiswa ekonomi pada tahun 1950-an. Buku itu berjudul Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia.

Ketika Mafia Berkeley sedang memerankan kebijakan yang cukup besar, Widjojo menempati posisi yang cukup strategis dalam pemerintahan Soeharto. Ketua Bappenas (1967-1971), Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (1971-1973), Menko Ekuin merangkap Ketua Bappenas (1973-1978 dan 1978- 1983), Penasehat Ekonomi Presiden (1993-1997).

Dengan melihat peran dan jabatannya dalam sejarah kekuasaan Orde Baru, Widjojo Nitisastro tak bisa dipisahkan dari pembangunan ekonomi Indonesia periode 1966-1997. Dialah arsitek ekonomi atau pemikir ekonomi orde baru.

Namun, seperti pernah ditulis oleh Chatib Basri, Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEUI. Widjojo bukan aktor di atas panggung dengan lampu sorot dan tepuk tangan penonton, Widjojo bukanlah ilustrasi yang baik tentang kekuatan kata dan retorika. Ia tak mengentak. Ia lebih banyak diam dan bekerja.

Subuh itu, pada 9 Maret 2012, sang begawan telah meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.  Di usia 84 tahun itu, sang “Don” melahirkan banyak jejak-jejak pemikiran baik yang tertuang dalam buku-buku maupun pada kader-kader ekonom yang brilian di negara ini.

Good bye Don

4 comments:

Jelajah Nesia said...

Berbagi Kisah, Infomasi dan Foto

Tentang Indahnya INDONESIA

www.jelajah-nesia.blogspot.com

YAZID said...

hmmm. ada2 aja ya... mafia udah tua jg.hee
nice share gan

kunjungi balik ya gan dan berkomentar juga di blog ane. salam kenal

JIMMY said...

mukanya ramah bgt dan terlihat sangat cerds orangnya

salam blogwalking Saiful Bahri Bikin Pencarian Yahoo Indonesia Naik

Bambang Wiana R said...
This comment has been removed by the author.